Senin, 22 November 2010

Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia


SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Pertumbuhan dan Perkembangan Islam di Indonesia 




Pada hakikatnya pendidikan Islam mulai berkembang ketika pertama kali terjadi kontak antara pedagang-pedagang muslim dengan penduduk pribumi, dalam mana nilai dan hukum dagang yang dianut dalam sistem perdagangan internasional waktu itu adalah nilai-nilai Islam, sehingga dapat membina hubungan dagang adalah mereka yang telah menerima dan mengamalkan hukum dagang Islam tersebut.


Gambaran di atas menunjukkan bahwa pendidikan Islam berlangsung tidak hanya terbatas pada satu tempat dan waktu tertentu, namun dimana dan kapan saja berlangsung kontak antara pedagang yang juga sekaligus sebagai muballiq dengan penduduk pribumi, disitu juga terjadi dan berlangsung pendidikan Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya, terbentuklah komunitas-komunitas Islam di kota-kota pelabuhan, dan pedagang-pedagang tersebut mulai membangun masjid. Ulama  dan guru-guru mulai berdatangan, pengajian-pengajian diselenggarakan dengan mengambil tempat di masjid-masjid.
Tempat-tempat pengajian ini kemudian selanjutnya ada yang berkembang menjadi pondok pesantren.


Sistem pendidikan Langgar 


Pada awal perkembangan Islam di Indonesia, pendidikan Islam dilaksanakan secara semaksimal, dan para muballiq ketika itu melaksanakan penyiaran agama Islam kapan dan dimana saja pada setiap kesempatan dengan cara yang mudah diterima oleh masyarakat. Hampir di setiap desa yang ditempati kaum muslimin, mereka mendirikan masjid sebagai tempat beribadah dan mengerjakan shalat Jumat dan pada tiap-tiap kampung, mereka mendirikan Surau (di Sumatera Barat) atau Langgar untuk  mengaji dan membaca Al-Qur’an, dan sebagai tempat untuk mendirikan shalat lima waktu.


Pendidikan Islam yang berlangsung di langgar bersifat elementer, di mulai dengan mempelajari huruf abjad Arab (hijaiyyah) atau kadang-kadang langsung mengikuti guru dengan  menirukan apa yang telah dibaca dari kitab suci Al-Qur’an.
Pendidikan  semacam ini dikelola oleh seorang petugas yang disebut Amil, Moden atau Lebai yang memiliki tugas ganda yaitu di samping memberikan doa pada waktu upacara keluarga atau desa, juga berfungsi sebagai guru.
Pengajian Al-Qur’an pada pendidikan Langgar ini dapat dibedakan atas dua tingkatan yaitu :
1)      Tingkatan rendah, yaitu merupakan tingkatan pemula, yaitu di mulai dengan sampai bisa membacanya  yang diadakan pada tiap-tiap kampung
2)      Tingkatan atas, pelajarannya selain tersebut di atas, juga ditambah dengan pelajaran lagu, kasida dan berzanzi, tajwid dan mengaji kitab perukunan.


Pengaruh Sistem Pendidikan Islam terhadap Sistem Pendidikan  Nasional
Sistem pendidikan Islam 


Berbicara tentang sistem pendidikan Islam tidak lepas dari sistem pendidikan yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah saw. Dalam mengemban misi kerasulannya di muka bumi ini
Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah (2) : 151 Allah swt berfirman :
Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.


Berdasarkan ayat di atas, ada empat pendekatan yang digunakan nabi saw dalam mengemban misi sebagai pembawa risalah dimuka bumi ini dalam rangka mengembangkan dan menyiarkan Islam, yaitu;  pendekatan tilawah, takziyah, ta’lim, al-kitab dan ta’lim al hikmah.
Ilmu sejarah memerlukan bukti-bukti yang otentik tentang permulaan masuknya Islam di Indonesia, sehingga sampai sekarang masih mengalami kesulitan-kesulitan yang prinsip antara lain :


a)      Buku-buku sejarah Indonesia banyak yang ditulis oleh orang-orang Belanda pada zaman pemerintah Belanda menjajah Indonesia. Ada dua macam keberatan terhadap buku-buku tersebut. Pertama penulisannya adalah orang yang tidak senang kepada Islam dan kepada bangsa Indonesia. Kedua masa penyelidikan sudah lama sehingga sudah ketinggalan waktu, yakni sudah ada bukti-bukti lain yang dikemukakan oleh penulis Belanda, namun demikian kita tidak boleh apriori menolak semua pendapat dari mereka.
b)     Buku-buku sejarah yang ada sering mengemukakan bukti berupa cerita rakyat yang hidup dan dipercayai oleh orang banyak sejak dahulu sampai sekarang. Ibarat hadis nabi Muhammad saw yang nilainya mashyur atau mutawatir dapat dijadikan dalil atau bukti.
Beberapa pendapat tentang permulaan Islam di Indonesia antara lain sebagai berikut : Bahwa kedatangan Islam pertama di Indonesia tidak identik dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia, mengingat bahwa pembawa Islam ke Indonesia adalah para pedagang, bukan misi tentara, dan bukan pelarian politik.  Mereka tidak ambisi  langsung mendirikan kerajaan Islam, lagi pula Indonesia pada zaman itu sudah ada kerajaan-kerajaan Hindu Budha yang banyak jumlahnya dan berkekuatan besar.


Umat Islam di Indonesia menghormati semua khalifah termasuk Ali bin Abi Thalib sedangkan orang Syiah tidak menghormati kecuali Ali bin Abi Thalib saja. Ditinjau dari letak  geografisnya, Persi dengan Indonesia tidak mempunyai hubungan yang langsung dan ramai dibandingkan dengan Arab, India, dan Indonesia. Kelemahan pendapat kedua yang mengatakan bahwa muballiq pertama datang dari Gujarat terletak pada ketermukanya bukti-bukti baru yang lebih kuat yang menyatakan bahwa muballiq pertama adalah orang-orang Arab.


Seminar masuknya Islam di Indonesia yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963 menyimpulkan sebagai berikut :
1)      Menurut sumber bukti yang terbaru, Islam pertama kali datang dai-dainya pada abad ke 7 m/1 H. di bawah  oleh pedagang dan muballiq dari negeri Arab
2)      Daerah  yang pertama dimasuki adalah pantai barat Pulau Sumatera yaitu daerah  Baros, tempat kelahiran ulama besar bernama Hamzah Fansyuri. Adapun kerajaan Islam yang pertama ialah di Pase
3)      Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Islam bangsa Indonesia ikut aktif mengambil bagian yang berperan, dan proses itu berjalan secara damai
4)      Kedatangan Islam di Indonesia, ikut mencerdaskan rakyat dan membina karakter bangsa. Karakter tersebut dapat dibuktikan pada perlawanan rakyat melawan  penjajahan bangsa asing dan daya tahannya mempertahankan karakter tersebut selama dalam zaman penjajahan Barat dalam waktu 350 tahun (?)
Dapatlah dibayangkan bagaimana sikap kepribadian para  penyiar Islam yang pertama di Indonesia itu  dengan mengingat tiga hal yaitu :
a)      Mereka adalah angkutan Islam ke 1 H. nabi Muhammad pernah bersabda bahwa sebaik-baik abad adalah abad saya kemudian abad berikutnya :


خير القر و ن قر نى ثم مايليه


b)     Mereka pada umumnya adalah para pedagang dan perantau  pada umumnya pedagang perantau bersikap ramah, ulet bekerja dan sederhana.
c)      Mereka datang sebagai golongan minoritas yang tidak bersenjata
Faktor tersebut menunjang keberhasilan dan kecepatan pengembangan Islam periode pertama itu. Dengan modul kepribadian tersebut para muballiq Islam itu terdakwa kepada rakyat awam dan kepada para penguasa pemerintah sekaligus, seperti yang dilakukan oleh nabi Muhammad sendiri. Nabi Muhammad saw mengajarkan agama Islam  kepada kaum awam yang lemah, kepada kaum bangsawan kabilah dan kepada raja-raja. Ia mengajarkan agama Islam di mana  saja dan kapan saja, tidak terikat oleh formalitas waktu  yang tempat tertentu.  Materi pengajarannya mula-mula sekali ialah kalimat syahadat. Barang siapa sudah bersyahadat berarti ia sudah menjadi warga Islam.
Proses pembentukan dan pengembangan masyarakat Islam yang pertama melalui macam-macam kontak misalnya, kontak jual beli kontak perkawinan dan kontak dakwah langsung baik secara individu maupun kolektif.


DAFTAR PUSTAKA
Khaeruddin. 2004. Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia. CV. Berkah Utami
Zuhairini. 2004. Pengaruh Sistem Pendidikan Islam terhadap Sistem Pendidikan Nasional. Bumi Aksara.

1 komentar: