Senin, 22 November 2010

Pendidikan Islam Indonesia

Oleh: Drs HM Kamilun Muhtadin
Pendidikan sesungguhnya tidak hanya menciptakan orang pintar, tetapi juga melahirkan manusia-manusia yang berakhlak mulia. Berapa banyak orang pintar tapi tidak membawa kesejahteraan dan kemaslahatan bangsa.  
Belajar  merupakan suatu kewajiban yang disyariatkan Islam atas setiap muslim laki-laki atau perempuan. 
Karena itu kaum hartawan bersemangat mendirikan tempat belajar seperti masjid, institut dan peralatan-peralatan yang dibutuhkan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT.
Dalam pendidikan Islam, sebenarnya sudah terwujud prinsip-prinsip demokrasi, kebebasan dan persamaan kesempatan yang sama untuk belajar, tanpa diskriminasi antara si kaya dan si miskin.
Sebab dalam Islam, ilmu adalah suatu hal yang tergolong suci, suatu hal yang sangat berharga dalam kehidupan seorang  muslim. Sedangkan para ulama dan para sarjana mempunyai kedudukan yang langsung sesudah kedudukan para nabi.
Ada dua kosep dasar pendidikan dalam Islam yang penting, yaitu  bit-ta’liim dan bit-taqqorrub. Dua hal itu tidak boleh terlupakan oleh kita dalam usaha mencari ilmu karena dua hal tersebut merupakan konsep dasar pendidikan Islam yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim Indonesia.
Para filosof Islam telah menulis buku-buku tentang pelajar dan pengajar  atau tentang guru dan murid, baik mengenai hak atau kewajiban masing-masing dan menulis sifat-sifat yang harus dimiliki oleh guru dan murid. An Nimari Al Qurtubi telah menulis dalam kitabnya “jami’ bayanil ilmi wafadhih” perihal tentang perilaku antara guru dan murid. Begitu pula Al Ghazali dalam kitabnya fatihatul  ulum dan ihya’ ulumuddin. Beliau telah mengkhususkan guru dengan sifat kesucian dan kehormatan, dan menempatkan posisi guru sesudah para nabi-nabi.
Dalam ihya’ ulumuddin, Al Ghozali telah menuliskan tentang kedudukan ilmu dan sarjana atau ulama sebagai berikut: “Seseorang yang berilmu kemudian dia bekerja dengan ilmu tersebut, dia disebut orang yang besar dibawah kolong langit. Dia ibarat matahari yang menyinari orang lain dan dirinya sendiri. Ibarat minyak kasturi yang baunya  dinikmati oleh orang lain, dan dia sendiri harum. Barang siapa yang bekerja dibidang pendidikan, maka dia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan penting, maka hendaknya dia memelihara adap dan sopan santun dalan tugasnya itu.”
Sebagai guru yang terbaik menurut pandangan pendidikan Islam, tentunya kita harus memiliki beberapa sifat yang dimiliki oleh seorang guru, yaitu: zuhud,  ikhlas dalam pekerjaan, pemaaf dan mempunyai kepribadian dan harga diri yang baik, menjaga kehormatan dan menghindarkan dari hal-hal yang  hina dan rendah, harus mengetahui tabi’at murid, menguasai mata pelajaran, memiliki sifat guru sebagai seorang mudir dan mubashir, mempunyai karakter sebagai guru yang baik yang dapat dicontoh murid. Selalu memberikan reward kepada murid tanpa membedakan.
Begitu pula seorang murid yang harus memiliki beberapa sifat terbaik sebagai seorang yang menuntut ilmu-ilmu umum. Bahkan ilmu agama. Sifat-sifat tersebut diantaranya: tawaddhu’, akhlaqul karimah, hubungan batiniah dengan guru, loyalitas pada guru, hormat pada guru dan masih banyak sifat-sifat yang lain. Kelima sifat tersebut sudah mulai hilang dan terkikis pada diri pembelajar Islam Indonesia. Padahal dalam setiap pribadi seorang murid  kelima hal tersebut harus ada.
Seorang guru harus ingat, bahwa kosep dasar pendidikan hendaknya memperhatikan hasil belajar yang berkualitas. Hasil belajar tersebut harus mencakup dua hal pokok yaitu: Pertama aspek kognitif, afektif dan motorik.  Kedua derajat keilmuannya.
Akan tetapi dalam landasan pendidikan Islam, guru juga harus memperhatikan budi pekerti. Pentingnya budi pekerti adalah mencapai baldatun toyyibatun warobbun ghofur, yang berasal  dari individu yang mempunyai keislaman yang mantap, dan benar menurut apa yang diperintahkan Allah SWT dan yang  dicontohkan oleh baginda Rasulillah SAW.
Demikian juga tentang misioner kurikulum pendidikan Islam yang harus dicapai dalam masa yang akan datang, dengan cara pemberdayaan potensi yang ada di sekolah-sekolah untuk pembinaan peserta didik. Pada prinsipnya pendidikan Islam tidak bertindak untuk mengengkang dan menekan instink manusia, tetapi berusaha menormalisasikan, mendidik, mengasuh dan mengarahkan instink tersebut dengan petunjuk dan nasehat ke jalan yang benar dengan tidak melupakan bimbingan para ulama sebagai warotsatul ambiya’. (seperti yang dituturkan kepada Joko Mulyono)

0 komentar:

Poskan Komentar