Jumat, 17 Februari 2012

MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG SAHABAT NABI DALAM PERANG JAMAL DAN SIFFIN


Artikel studi analisis tentang Perang Jamal dan Siffin

Sudah cukup lama saya ingin mengetahui fakta sejarah pasca kenabian Muhammad Saw. Selama ini saya merasakan bahwa pendidikan sejarah islam diajarkan secara sepotong-sepotong dan tidak sistematis, bahkan saya jadi tambah bingung Terutama pasca kerasulan. Dimulai dari kekhilafahan Abu bakar  Assiddiq hingga terjadinya fitnah terbunuhnya Ustaman bin affan,  yang kemudian meletus perang antar saudara muslim hingga zaman dinasti.
Rasa ingin tahu saya semakin tinggi seselah mendengar salah satu ungkapan aktifis dakwah dan beberapa alumni perguruan negeri islam tentang sosok Ummul Mukminin Aisyah ra dan Mu’awiyah. Ternyata banyak kesalah fahaman sikap terhadap beliau. Banyak buku-buku sejarah islam yang menampilkan wajah yang menyeramkan terkait dengan terjadinya fitnah perang jamal (onta) dan perang siffin.
Adanya realita sejarah perang Jamal (perang unta) dan perang Shiffin, tidak bisa dipungkiri. Namun yang tidak benar adalah analisanya yang ternyata versi musuh Islam. Sayangnya, sejarah yang kita baca, bahkan yang diajarkan di mata kuliah peradaban Islam di berbagai Universitas Islam di negeri ini, justru versi musuh-musuh Islam itu.
Akibatnya, sejarah Islam yang dibanggakan itu tampil dengan wajah menyeramkan, pertumpahan  darah, sadis dan menjijikkan. Terutama wajah para shahabat nabi SAW, yang muncul tidak ubahnya seperti srigala liar kehausan darah karena ambisi kekuasaan. Padahal Al-Quran telah menyebut mereka para shahabat sebagai orang-orang yang diredhai.
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS At-Taubah: 100).
Analisa sejarah yang kita punya tidak pernah lepas dari apa yang ditulis oleh musuh Islam. Dan kesimpulan versi mereka, bahwa rusak dan pecahnya umat Islam ini berasal dari generasi shahabat. Karena ini sangat berbahaya sekali. Kalau kita pakai logikanya,seandainya generasi yang paling baik dari umat ini sudah dianggap menyeleweng, bagaimana dengan generasi berikutnya?
Padahal generasi para shahabat itu adalah generasi binaan Rasulullah SAW langsung, dengan keringat, airmata dan darah beliau. Bahkan Rasulullah SAW telah ridha atas mereka dan mereka ikut bersama dakwah Rasulullah bukan sebulan atau dua bulan, tapi banyak dari mereka yang sejak masa awal turunnya wahyu dibina langsung oleh manusia paling mulia di dunia ini.
Yang kita baca sebenarnya bukan sejarah, melainkan opini orang kafir. Dan opini itu ibarat pisau belati  bermata dua. Di satu sisi seolah menawarkan studi kritik sejarah yang seolah ilmiyah dan histioris, namun di belakangnya ada mata khanjar yang tajam itu siap menghujam aqidah dan fikrah umat Islam.
Sayangnya, `studi historis' seperti inilah yang justru dilakukan oleh sebagian kalangan yang akrab dengan dunia kampus, sebagiannya bahkan menyandang gelar akademis yang lumayan, sebagian bahkan menyebut diri sebagai 'mujaddid'. Sayangnya lagi, di balik analisa itu ada sebuah cacian yang mereka bungkus dengan ungkapan 'kritik historis'atau 'kritik ilimyah'.
Misalnya kasus tahkim (arbitrase), kasus ini paling sering diangkat untuk menjatuhkan dan mencaci maki sebagian shahabat serta untuk mendiskreditkan mereka. Sayangnya, hampir semua kritik sejarah ini mengacu hanya sampai analisa para orientalis yang penuh dengan bumbu prasangka buruk.
Sedangkan sumber sejarah Islam yang paling asli dan merupakan sebuah report yang paling valid dan dipercaya, hampir-hampir tidak pernah disentuh. Jadi analisa itu tidak lebih hanya nukilan dari nukilannya nukilan nukilan. Mereka yang mengangkat diri sebagai kritikus sejarah itu, justru sama sekali belum pernah membaca literatur asli dari peristiwa di masa shahabat itu. Bahkan menyentuhnya pun belum pernah.

Meluruska persepsi terjadinya perang jamal (perang onta)
Berawal dari terjadinya fitnah pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan ra., Abdulah bin Saba’ dan kaumnya mendatangi Ali bin Abi Thalib ra. dan kemudian memprovokasinya untuk menggantikan Utsman bin Affan ra.  Namun Ali bin Abi Thalib ra. menolak provokasi tersebut bahkan kemudian membunuh sebagian pengikut Abdullah bin Saba’ namun Abdullah bin Saba’ sendiri berhasil melarikan ke Mesir.

Ketika berada di Mesir dia bertemu dengan beberapa kaum munafiquun untuk merencanakan suatu makar yang hebat.  Kemudian dengan pengaruhnya, Abdullah bin Saba’ berhasil membuat opini tentang keburukan pemerintahan Utsman bin Affan ra di Madinah. sehingga beberapa orang kaum muslimin terpengaruh oleh cerita yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ tersebut.

Setelah dirasakan banyak kaum muslimin yang terpengaruh olehnya maka Abdullah bin Saba’ berangkat ke madinah beserta rombongannya menuju Madinah.  Sesampainya Madinah Abdullah bin Saba’ dan rombongannya membuat fitnah yang besar terhadap Khalifah Utsman bin Affan.

Saking hebatnya fitnah itu karena juga disebarkan oleh rombongan Abdullah bin Saba’ yang besar jumlahnya maka sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum terpengaruh oleh ucapan kaum munafiquun tersebut sampai – sampai putra Khalifah pertama yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq mendatangi Khalifah Utsman bin Affan ra. dengan marah dan menarik jenggotnya.

Dan pada puncaknya kaum munafiquun dan sebagian kaum muslimin yang baik yang terprovokasi oleh ucapan Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya mengepung rumah Utsman bin Affan ra. kemudian membunuhnya.

Setelah meninggalnya Utsman bin Affan ra. maka kaum munafiquun dan sebagian sahabat serta kaum muslimin yang lain membai’at Ali bin Abi Thalib ra. sebagai Khalifah berikut.  Kemudian munculah fitnah yang menyebabkan sahabat terpecah belah yaitu tentang hukuman bagi para pembunuh Utsman bin Affan ra.

Sahabat radhiyallahu’anhum terpecah menjadi 2 kubu yaitu kubu Ali bin Abi Thalib ra. dan kubu ‘Aisyah ra., Mu’awiyyah ra., Thalhah ra., Zubair ra dan lainnya. Kubu ‘Aisyah ra dan sahabat lainnya menuntut disegerakannya hukuman qishas bagi pembunuh Utsman bin Affan ra.  Namun Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. menundanya karena 2 ijtihad, pertama negara dalam keadaan kacau sehingga perlu ditertibkan dahulu dan yang kedua pembunuh Utsman bin Affan ra. sebagian adalah munafiquun dan sebagian lagi kaum muslimin yang baik yang termakan provokasi, maka Ali bin Abi Thalib ra. membutuhkan kepastiannya.

Namun ‘Aisyiah ra., Thalhah ra., Zubair ra., dan sahabat nabi yang lain tetap pada ijtihadnya yaitu menuntut Ali bin Abi Thalib ra untuk menyegerakan hukuman qishas terhadap para pembunuh Utsman bin Affan ra.

Akhirnya setelah masing – masing sahabat Nabi tersebut membawa pasukan dan siap untuk berperang, lalu kemudian Ali bin Abi Thalib ra. sepakat dengan pihak ‘Aisyah ra. dan menyetujui untuk menyegerakan hukuman qishas terhadap para pembunuh Utsman bin Affan ra.  Rupanya kesepakatan Ali dengan kubu ‘Aisyah ra. membuat gerah kaum munafiquun yang dipimpin oleh Abdullah bi Saba’

Pada malam harinya (Perang Jamal berlangsung pada malam hari) kaum munafiquun menyusup ke barisan sahabat Thalhah ra. dan Zubair ra. dan melakukan penyerangan mendadak.  Karena merasa diserang maka kubu Thalhah ra. dan Zubair ra. balas menyerang ke pasukan Ali bin Abi Thalib ra dan perang besar pun tak terhindarkan.  Perang ini disebut Perang Jamal dan berakhir dengan kemenangan Ali bin Abi Thalib ra. dan meninggalnya 2 orang sahabat yang dijamin masuk surga yaitu Thalhah ra. dan Zubair ra.

Sahabat Mu’awiyyah ra. yang pada waktu itu masih menjadi Gubernur di Damaskus menggerakan pasukannya menuju Madinah dengan tuntutan yang sama yaitu menyegerakan mengqishas pembunuh Utsman bin Affan ra. 

Karena keadaan yang semakin kacau Ali bin Abi Thalib ra. tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut lalu terjadilah perang yang berikutnya yang dikenal dengan nama Perang Shiffin yang berakhir dengan gencatan senjata meskipun pada waktu itu Ali bin Abi Thalib ra. hampir memenangkan pertempuran tersebut.  Lalu Mu’awiyyah ra. kembali ke Damaskus dan tetap menolak membaiat Ali bin Abi Thalib ra. sebagai Khalifah (Lalu sebagian kaum muslimin membai’at Muawiyyah ra. sebagai Amirul Mukminin)

Dan pada itu negara Islam terbagi 2 yaitu Ali bin Abi Thalib ra di Madinah dan Mua’wiyyah ra. di Damaskus.  Pada kondisi tersebut ada sebagian kecil kaum muslimin yang tidak puas kepada keduanya, dan kaum muslimin yang tidak puas kepada Ali ra. dan Mu’awiyyah ra. mereka membentuk firqah baru (inilah firqah pertama dalam Islam, disusul Syiah, Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyyah, Qadariyyah, Jabariyyah dan lain sebagainya) yang disebut sebagai Khawarij dan mereka mengkafirkan kedua sahabat nabi tersebut.

Lalu kaum Khawarij mengutus pembunuh kepada keduanya, namun qadarullah hanya Ali bin Abi Thalib ra yang terbunuh, sedangkan percobaan pembunuhan terhadap Muawiyyah ra. dapat digagalkan.

Anjuran:
Sebaiknya kita tidak menelan mentah-mentah pendapat penulis sejarah yang tidak diketahui ketshiqahannya contohnya “Faraq fauda” seorang ilmuan orientalis libral yg meng hujat sahabat dalam bukunya al-Haqiqah al-Ghaybah; yang diterjaemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi “ kebenaran yang hilang” disingkat menjadi (KYH)

Dan Sebaiknya kita tabayun terhadap buku-buku sejarah yang mendiskreditkan Islam…..dan mengimbangi dengn membaca literatur2 yang terbukti ketsubutannya…akan lebih tercerahkan ketika kita membaca buku-buku dibawah ini:
1.    Kibab Al-‘awaasim wal qawaasim ditulis oleh: Al-qadhi Abu bakr ibnul ‘arabi.
2.     Tarikhur Rusul wal Muluk karya imam  At-Thabari
3.    Tahqiq Mawaqifus Shahabah Fil Fitnah karya Prof. Dr. Muhammad Amhazun.
Versi terjemah oleh Dr. Daud Rasyid MA dengan judul Fitnah Kubro (belum punya bukunya, sudah cari-cari di toko buku ternyata sudah tidak dicetak lagi. Kalo ada yg punya pinjem yah…buat di foto kopi…hehe…:)


SEMOGA MANFAAT


1 komentar:

  1. subhanallah,
    hampir saya percaya dengan propaganda syiah yang menyesatkan tentang Aisyah r.a dan para Khulafaurrasyidin.
    terima kasih, tulisan yang bermanfaat.

    BalasHapus